Fenomena perilaku seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan menjadi ancaman nyata bagi kualitas generasi penerus bangsa. Berdasarkan data empiris yang dirilis oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tercatat sebuah realitas yang mengejutkan mengenai usia pertama kali remaja melakukan hubungan seksual. Data BKKBN menunjukkan bahwa sekitar 60% remaja mengaku pertama kali melakukan hubungan seksual pada rentang usia yang masih sangat muda, yaitu antara 16 hingga 17 tahun. Sementara itu, 20% lainnya melakukannya pada rentang usia 19 hingga 20 tahun, dan sekitar 20% sisanya terjadi pada usia dini, yaitu pada rentang 14 hingga 15 tahun (BKKBN, 2023).
Tingginya angka perilaku seksual berisiko ini diperparah oleh rendahnya pemahaman komprehensif remaja mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan valid. Banyak remaja yang mengadopsi mitos keliru atau mendapatkan informasi seputar seksualitas dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, seperti obrolan teman sebaya atau situs internet ilegal. Laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2022)

Dampak yang ditimbulkan dari perilaku seks bebas ini sangat multidimensional dan berujung fatal bagi masa depan remaja. Dari aspek klinis medis, aktivitas seksual aktif di usia dini dan perilaku berganti-ganti pasangan memicu lonjakan kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti gonore, sifilis, klamidia, hingga virus mematikan HIV/AIDS. Selain ancaman penyakit, konsekuensi biologis yang paling sering terjadi adalah Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
Tingginya angka KTD pada usia sekolah ini berbanding lurus dengan maraknya pengajuan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama akibat kondisi “hamil duluan”, yang pada akhirnya memaksa terjadinya pernikahan dini. Pernikahan di usia yang belum matang ini umumnya belum siap secara mental, fisik, maupun ekonomi, sehingga rentan memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, hingga kelahiran bayi dengan kondisi stunting (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA, 2023).


Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan desain studi pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Penggunaan desain ini bertujuan untuk melakukan pengukuran objektif terhadap tingkat pengetahuan serta dinamika sikap psikososial remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan seks bebas melalui perbandingan langsung antara kondisi sebelum (pre-test) dan setelah (post-test) intervensi diberikan.
Secara operasional, intervensi promosi kesehatan dalam pengabdian ini mengadopsi prinsip Comprehensive Sexuality Education (CSE) yang disesuaikan dengan nilai moral, budaya, dan tingkat perkembangan remaja di Indonesia. Pendekatan ini diwujudkan melalui metode interaktif berlapis yang memadukan beberapa strategi penyampaian
Guna memastikan efektivitas dan kelancaran pelaksanaan kegiatan, pembagian peran antara dosen pembimbing dan mahasiswa disusun secara terstruktur agar setiap tahapan kegiatan dapat terlaksana dengan baik. dosen pembimbing yaitu Erin RIka Herwina. S.Kp.,M.Kep (Dosen/Ketua Tim) dan dr Waryantini, MARS (Dosen/Anggota). dengan anggota mahasiswa Yuni Nurmawati, Ismi Asmiyati, Iqbal Fauzil Haq, dan Nia Ramdaningsih
Sasaran dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditentukan secara terstruktur dengan mengedepankan prinsip keterwakilan kelompok berisiko pada fase perkembangan remaja, Sasaran utama dari program promosi kesehatan ini adalah seluruh siswa dan siswi aktif yang menempuh pendidikan di tingkat menengah atas pada institusi SMA dan SMK Pelita Bunga Bangsa Arjasari, Kabupaten Bandung. Peserta penyuluhan mencakup kelompok remaja laki-laki dan remaja perempuan. Pelibatan kedua kelompok gender ini dilakukan secara berimbang karena edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan perilaku seks bebas memerlukan pemahaman kolektif serta tanggung jawab bersama antara kedua belah pihak dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Peserta berada pada rentang usia 15 hingga 18 tahun. Berdasarkan klasifikasi tahapan perkembangan menurut World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, rentang usia ini masuk ke dalam kategori remaja pertengahan (middle adolescence) menuju remaja akhir (late adolescence).


Kegiatan promosi kesehatan ini dilaksanakan pada Hari Jumat, tanggal 12 Juni 2026. Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai. bertempat di Gedung sekolah gabungan SMA – SMK Pelita Bunga Bangsa Arjasari.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan tema “Remaja Cerdas, Reproduksi Sehat: Mencegah Seks Bebas demi Masa Depan yang Hebat” telah terlaksana dengan baik di SMA–SMK Pelita Bunga Bangsa Arjasari sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi serta pentingnya pencegahan perilaku seks bebas melalui pendekatan edukasi yang bersifat promotif dan preventif.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Nilai rata-rata pretest sebesar 7,12 meningkat menjadi 9,58 pada posttest. Selain itu, penyebaran nilai peserta setelah penyuluhan menjadi lebih merata, yang ditunjukkan dengan penurunan nilai standar deviasi dari 1,45 menjadi 0,88. Hasil tersebut menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh peserta.
