Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Baros merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berperan dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas melalui penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan karakter peserta didik. Selain berperan dalam meningkatkan kemampuan akademik dan keterampilan, sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam mendukung derajat kesehatan peserta didik melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif. Lingkungan sekolah menjadi tempat yang strategis untuk memberikan edukasi kesehatan karena peserta didik menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan berada pada tahap perkembangan yang sangat penting.
Peserta didik di SMK Baros sebagian besar berada pada rentang usia remaja. Masa remaja merupakan periode transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, perkembangan psikologis, serta perubahan hormonal yang berlangsung dengan cepat. Pada masa ini, kebutuhan zat gizi meningkat untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan. Khususnya pada remaja putri, kebutuhan zat besi menjadi lebih tinggi karena adanya menstruasi setiap bulan yang menyebabkan kehilangan zat besi dalam tubuh. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, remaja berisiko mengalami anemia.
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih sering dijumpai pada kelompok remaja, terutama remaja putri. Kondisi ini terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah nilai normal sehingga kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Remaja yang mengalami anemia umumnya akan lebih mudah merasa lelah, lemas, sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, dan mengalami penurunansemangat belajar. Apabila tidak dicegah sejak dini, anemia dapat berdampak pada prestasi belajar, produktivitas, serta kualitas kesehatan remaja di masa mendatang. Sebagai salah satu institusi pendidikan, SMK Baros memiliki potensi yang besar dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan peserta didik melalui kegiatan edukasi kesehatan. Oleh karena itu, SMK Baros dipilih sebagai mitra dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai anemia. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik memperoleh informasi yang benar mengenai anemia sehingga mampu menerapkan perilaku hidup sehat dan melakukan pencegahan anemia sejak dini.
Guna memastikan efektivitas dan kelancaran pelaksanaan kegiatan, pembagian peran antara dosen pembimbing dan mahasiswa disusun secara terstruktur agar setiap tahapan kegiatan dapat terlaksana dengan baik. dosen pembimbing yaitu Siti Solihat Holida, S.Kp., MM., M.Kep (Dosen/Ketua Tim) dan Adv. KM. Yusfar, S.Kep., Ns.,S.H.,MHKes., M.MRS (Dosen/Anggota). dengan anggota mahasiswa Irhan Ardina Ramadhan, Raisha Arisanti, Witri Tresdamawati, dan Perinita Anzelia
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 19 Juni 2026 di SMK Baros pada Siswi Remaja Putri Kelas 10 & 11 dengan tema Pengenalan, Dampak, dan Pencegahan Anemia Pada Remaja

Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat pengetahuan peserta setelah diberikan penyuluhan kesehatan. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata nilai dari 8,11 pada pretest menjadi 9,93 pada posttest. Kenaikan rata-rata sebesar 1,82 poin menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta.
Selain peningkatan nilai rata-rata, median juga meningkat dari 8 menjadi 10, yang menunjukkan bahwa setelah penyuluhan sebagian besar peserta mampu menjawab hampir seluruh pertanyaan dengan benar. Penurunan standar deviasi dari 1,19 menjadi 0,27 mengindikasikan bahwa setelah diberikan penyuluhan kemampuan peserta menjadi lebih merata. Kondisi ini menunjukkan bahwa informasi yang diberikan dapat dipahami oleh hampir seluruh peserta sehingga kesenjangan tingkat pengetahuan antarresponden semakin kecil.
Nilai minimum juga mengalami peningkatan cukup besar, yaitu dari 4 menjadi 9. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta yang sebelumnya memiliki tingkat pengetahuan rendah mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah memperoleh edukasi kesehatan. Nilai maksimum tetap berada pada angka 10, yang menunjukkan bahwa sejak awal terdapat beberapa peserta yang telah memiliki pengetahuan sangat baik, namun setelah penyuluhan jumlah peserta yang memperoleh nilai maksimal menjadi jauh lebih banyak.
Hasil ini mendukung teori Notoatmodjo yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan seseorang melalui proses penyampaian informasi sehingga terjadi perubahan pada domain kognitif. Pengetahuan yang meningkat diharapkan menjadi dasar terbentuknya sikap dan perilaku kesehatan yang lebih baik.
Keberhasilan penyuluhan juga dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan. Penyampaian materi secara interaktif, penggunaan media edukasi yang menarik, serta adanya kesempatan berdiskusi membuat peserta lebih mudah memahami materi. Kegiatan tanya jawab memungkinkan peserta mengklarifikasi informasi yang belum dipahami sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dibandingkan hanya membaca materi secara mandiri.
