Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang SAYANGI DIRIMU: KENALI DAN CEGAH PENYAKIT SEKSUAL di SMK AKAR ILMU

Masa remaja merupakan salah satu fase transisi yang paling dinamis, kompleks, sekaligus krusial dalam siklus rentang kehidupan manusia. Fase ini menjembatani masa kanak-kanak yang dependen menuju masa dewasa yang mandiri, yang ditandai dengan perubahan dramatis pada aspek biologis, psikologis, kognitif, dan sosial. Secara biologis, lonjakan hormon seksual memicu kematangan organ reproduksi serta munculnya ciri-ciri seks sekunder. Namun, pertumbuhan fisik dan kematangan seksual yang pesat ini sering kali tidak berjalan selaras dengan kematangan psikologis dan kemampuan kontrol emosi. Secara psikologis, remaja memiliki karakteristik ego yang tinggi, rasa ingin tahu yang sangat besar (high curiosity), serta kecenderungan kuat untuk mencoba hal-hal baru dan mengambil risiko tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya (Poltekkes Denpasar, 2022).

Di era globalisasi dan digitalisasi yang masif saat ini, tantangan yang dihadapi oleh kelompok remaja menjadi jauh lebih kompleks. Kehadiran gawai dan internet memberikan akses tanpa batas terhadap berbagai arus informasi. Sayangnya, keterbukaan informasi ini tidak dibarengi dengan literasi kesehatan yang memadai. Remaja saat ini sangat rentan terpapar konten pornografi, tayangan yang mereduksi nilai-nilai moral, serta informasi yang keliru (mitos) mengenai hubungan seksual di media sosial. Minimnya edukasi formal yang komprehensif mengenai kesehatan reproduksi—yang sering kali masih dianggap tabu atau memalukan oleh lingkungan keluarga dan sekolah—menyebabkan remaja mencari jawaban atas rasa ingin tahu mereka dari sumber-sumber internet yang tidak validatau melalui diskusi dengan teman sebaya (peer group) yang tingkat pengetahuannya sama-sama terbatas (UMT, 2022).

Kondisi tersebut menjadi pemicu utama bergesernya nilai-nilai sosial yang berdampak pada meningkatnya angka perilaku seksual pranikah (premarital sex) dan seks bebas di kalangan remaja. Perilaku berisiko ini membawa konsekuensi medis dan sosial yang sangat berat, salah satunya adalah lonjakan kasus Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Infeksi Menular Seksual (IMS). Berdasarkan laporan epidemiologi terbaru, kelompok usia remaja dan dewasa muda (15–24 tahun) secara konsisten mendominasi statistik penularan infeksi bakteri seperti gonore, klamidia, dan sifilis, serta infeksi virus kronis seperti Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hal ini diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar kasus PMS pada remaja bersifat asimptomatik (tanpa gejala klinis yang jelas pada fase awal), sehingga penderita tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi dan terus menularkannya kepada orang lain (Fathiyyatussabillah dkk., 2026).

Guna memastikan efektivitas dan kelancaran pelaksanaan kegiatan, pembagian peran antara dosen pembimbing dan mahasiswa disusun secara terstruktur agar setiap tahapan kegiatan dapat terlaksana dengan baik. dosen pembimbing yaitu Siti Solihat Holida, S.Kp., MM., M.Kep (Dosen/Ketua Tim) dan Erin Rika Herwina S.Kp., M.Kep (Dosen/Anggota). dengan anggota mahasiswa Hanifah Azkiyatun Nisa, Rizki Nurfajar Adriyansyah, Rita Selistiawati, Risa Siti Adawiyah dan Vera Liany Julianty

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan One Group Pretest–Posttest Design. Desain ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai Penyakit Menular Seksual (PMS). Pada desain ini hanya terdapat satu kelompok yang diberikan intervensi berupa penyuluhan kesehatan tanpa adanya kelompok kontrol.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pemberian pretest kepada seluruh peserta untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai Penyakit Menular Seksual (PMS). Selanjutnya peserta diberikan penyuluhan kesehatan menggunakan metode ceramah interaktif, media presentasi PowerPoint, video edukasi, serta diskusi dan tanya jawab. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan, peserta kembali diberikan posttest menggunakan instrumen yang sama dengan pretest untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan setelah memperoleh penyuluhan. Perbandingan hasil pretest dan posttest digunakan sebagai dasar dalam mengevaluasi efektivitas penyuluhan kesehatan yang telah dilaksanakan.

Sasaran kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah siswa-siswi SMK Akar Ilmu yang berada pada kelompok usia remaja. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 32 responden. Seluruh pesertamengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari registrasi, pengisian pretest, penyampaian materi penyuluhan, sesi diskusi dan tanya jawab, hingga pengisian posttest sebagai evaluasi akhir kegiatan.Pemilihan sasaran dilakukan karena remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi akibat perubahan biologis, psikologis, serta tingginya rasa ingin tahu yang dapat memengaruhi perilaku kesehatan.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di SMK Akar Ilmu. Pelaksanaan kegiatan dilakukan sesuai jadwal yang telah disepakati bersama pihak sekolah. Kegiatan dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan penyuluhan, evaluasi melalui pretest dan posttest, hingga penutupan kegiatan dilaksanakan pada Hari Rabu, tanggal 17 Juni 2026 jam 10.00 wib bertempat di SMK Akar Ilmu

Berdasarkan hasil kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa penyuluhan kesehatan mengenai Penyakit Menular Seksual (PMS) pada remaja di SMK Akar Ilmu, dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan PMS. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 76,56 pada saat pretest menjadi 92,66 pada saat posttest. Selain itu, hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.

Penyampaian materi melalui metode ceramah interaktif, presentasi PowerPoint, serta sesi diskusi dan tanya jawab mampu meningkatkan partisipasi dan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Dengan meningkatnya pengetahuan tersebut, diharapkan remaja memiliki kesadaran yang lebih baik untuk menjaga kesehatan reproduksi, menghindari perilaku seksual berisiko, serta menerapkan perilaku hidup sehat sebagai upaya pencegahan Penyakit Menular Seksual