EDUKASI HIV DAN AIDS PADA ANAK SEKOLAH REMAJA DI MA AL-HUDA PEMEUNGPEUK

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV yang ditandai dengan menurunnya sistem imun sehingga tubuh rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa hingga akhir tahun 2023 terdapat sekitar 39,9 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia, dengan sekitar 1,3 juta kasus infeksi baru dan 630 ribu kematian terkait AIDS. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan global yang memerlukan upaya pencegahan secara berkelanjutan, terutama pada kelompok remaja (WHO, 2024).

Di Indonesia, HIV/AIDS masih menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus setiap tahunnya. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2024 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tercatat sebanyak 41.987 kasus HIV dan 8.639 kasus AIDS. Sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok usia produktif, termasuk remaja dan dewasa muda, yang memiliki risiko tinggi terhadap penularan HIV akibat perilaku berisiko serta kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS yang cukup tinggi di Indonesia. Tingginya mobilitas penduduk, kepadatan populasi, serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian HIV/AIDS. Oleh karena itu, pemerintah terus mengembangkan berbagai program promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan, konseling, serta layanan tes HIV sebagai upaya menekan peningkatan kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2024).

Kabupaten Bandung sebagai salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat juga memiliki perhatian terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS, khususnya pada kelompok remaja. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa pada tahun 2024 sebanyak 52.393 orang di Kabupaten Bandung telah menjalani pemeriksaan HIV. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama remaja, sebagai langkah promotif dan preventif untuk mencegah penularan HIV/AIDS sejak dini (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2024).

Remaja merupakan kelompok usia yang berada pada masa transisi dari anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, emosional, dan sosial. Pada fase ini, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan, serta mulai membentuk identitas diri. Apabila tidak dibekali dengan pengetahuan yang memadai mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS, remaja berisiko melakukan perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penularan HIV, seperti hubungan seksual yang tidak aman dan penyalahgunaan narkoba suntik (WHO, 2024).

Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam menjaga kesehatan. Remaja yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai HIV/AIDS akan lebih mampu memahami cara penularan, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahannya sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga kesehatan diri. Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dapat menimbulkan kesalahpahaman, stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS, serta meningkatkan risiko terjadinya perilaku yang dapat menyebabkan penularan HIV (Notoatmodjo, 2014)

Salah satu upaya promotif dan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja adalah melalui penyuluhan kesehatan.

Penyuluhan kesehatan merupakan proses pendidikan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat melalui penyampaian informasi yang terencana, sistematis, dan mudah dipahami. Penyuluhan kesehatan yang dilakukan secara interaktif terbukti mampu meningkatkan pemahaman remaja mengenai HIV/AIDS sehingga diharapkan dapat mendorong terbentuknya perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab (WHO, 2020; Notoatmodjo, 2014).

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan dengan menerapkan desain eksperimen semu (quasi-experiment) melalui rancangan one group pretest-posttest design untuk mengukur efektivitas intervensi yang diberikan. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pengambilan data awal (baseline) melalui penyebaran pretest kepada 29 siswa-siswi MA Al- Huda Pameungpeuk untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mereka mengenai HIV/ AIDS. Selanjutnya, diberikan intervensi berupa penyuluhan kesehatan secara langsung menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta media PowerPoint dan poster. Kegiatan diakhiri dengan pengisian post-test menggunakan instrumen kuesioner yang sama untuk mengevaluasi perubahan tingkat pengetahuan peserta. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk melihat signifikansi peningkatan pengetahuan remaja di sekolah tersebut sebagai indikator keberhasilan luaran PkM.

Guna memastikan efektivitas dan kelancaran pelaksanaan kegiatan, pembagian peran antara dosen pembimbing dan mahasiswa disusun secara terstruktur agar setiap tahapan kegiatan dapat terlaksana dengan baik. dosen pembimbing yaitu Siti Solihat Holida, S.Kp., MM., M.Kep (Dosen/Ketua Tim) dan Dewi Rosmawarsari, S.Kep., Ns.,M.Kep (Dosen/Anggota) dengan anggota mahasiswa Andrian Qian Riaz Mizar, Fina Raihani, Neisa Fadilla Aripin, dan Salwa Aulia Serlianti.

Sasaran dalam kegiatan penyuluhan kesehatan ini adalah siswa dan siswi MA Al-Huda Pameungpeuk sebagai kelompok remaja usia sekolah. Pemilihan sasaran didasarkan pada pertimbangan bahwa masa remaja merupakan periode perkembangan yang penting dalam pembentukan pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi Kegiatan   penyuluhan     ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai HIV dan AIDS, meliputi pengertian, penyebab, cara penularan, tanda dan gejala, pencegahan, pengobatan, serta pentingnya  tidak melakukan diskriminasi  terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Melalui kegiatan ini diharapkan siswa dan siswi memiliki pemahaman yang benar mengenai HIV dan AIDS sehingga dapat menerapkan perilaku hidup sehat dan menghindari faktor-faktor risiko penularan HIV.

Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini telah direalisasikan pada hari Kamis, 14 Mei jam 09.00 – 10.30 wib diAula MA Al-Huda Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan di MA Al-Huda Pameungpeuk mengenai penyuluhan kesehatan tentang HIV dan AIDS pada remaja, dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan remaja mengenai pengertian HIV dan AIDS, cara penularan, faktor risiko, pencegahan, serta pentingnya deteksi dini dan menghilangkan stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan pemahaman siswa setelah diberikan edukasi kesehatan melalui media penyuluhan yang dilakukan. Dengan demikian, kegiatan penyuluhan kesehatan dapat dinyatakan efektif sebagai upaya edukasi dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pencegahan HIV dan AIDS serta mendorong terbentuknya perilaku hidup sehat.